makalah aluminium
KATA
PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan
kepada Tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami
boleh menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan
sebuah makalah dengan judul “ALUMINIUM ”,
yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk
mempelajari nya.
Melalui kata pengantar ini penulis
lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada
kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung
perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah
ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat.
Kampar, 18 Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A.
Latar Belakang
1
B.
Tujuan .............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 2
A.
Pengertian Aluminium ................................................................................ 2
B.
Sifat-sifat yang Dimiliki Aluminium ............................................................ 2
C.
Klasifikasi Aluminium ................................................................................. 3
D.
Pengolahan Alumininum ............................................................................. 7
E.
Penggunaan Aluminium ............................................................................... 8
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 10
A. Kesimpulan .................................................................................................. 10
B. Saran 10
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada abad ke-19, sebelum
ditemukannya proses elektrolisis, aluminium hanya bisa didapatkan
dari bauksit dengan proses kimia Wöhler. Dibandingkan dengan elektrolisis,
proses ini sangat tidak ekonomis, dan harga aluminium dulunya jauh melebihi
harga emas. Karena dulu dianggap sebagai logam berharga, Napoleon IIIPaul L.T Heroult dari Perancis (1808-1873) pernah
melayani tamunya yang pertama dengan piring aluminium dan tamunya yang kedua
dengan piring emas dan perak. Pada tahun 1886, Charles
Martin Hall
dari Amerika Serikat (1863-1914) dan Paul
L.T. Héroult
dari Perancis (1863-1914) menemukan proses elektrolisis yang sampai sekarang
membuat produksi aluminium ekonomis.
B. Tujuan
1. Untuk memahami tentang Aluminium.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan
aluminium dan densitas nya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Aluminium
Aluminium ialah unsur kimia. Lambang
aluminium ialah Al, dan nomor atomnya 13. Aluminium ialah logam paling
berlimpah. Aluminium adalah logam yang berwaarna putih perak dan tergolong
ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm3.
Aluminium bukan merupakan jenis logam berat,
namun merupakan elemen yang berjumlah sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga.
Aluminium terdapat dalam penggunaan aditif makanan, antasida, buffered
aspirin, astringents, semprotan hidung, antiperspirant, air minum, knalpot mobil, asap
tembakau,
penggunaan aluminium
foil, peralatan masak, kaleng, keramik , dan kembang api.
Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik. Terang dan kuat. Merupakan konduktor yang baik
juga buat panas. Dapat ditempa menjadi lembaran, ditarik menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan bermacam-macam penampang. Tahan korosi.
Aluminium digunakan dalam banyak
hal. Kebanyakan darinya digunakan dalam kabel bertegangan tinggi. Juga secara
luas digunakan dalam bingkai jendela dan badan pesawat terbang. Ditemukan di rumah sebagai panci, botol
minuman ringan,
tutup botol
susu dsb. Aluminium juga digunakan untuk
melapisi lampu mobil dan compact
disks.
B.
Sifat-sifat yang Dimiliki Aluminium
Sifat-sifat yang dimilki aluminium
antara lain :
-
Ringan,
tahan korosi dan tidak beracun maka banyak digunakan untuk alat rumah tangga
seperti panci, wajan dan lain-lain.
-
Reflektif,
dalam bentuk aluminium foil digunakan sebagai pembungkus makanan, obat, dan
rokok.
-
Daya
hantar listrik dua kali lebih besar dari Cu maka Al digunakan sebagai kabel tiang
listrik.
-
Paduan
Al dengan logam lainnya menghasilkan logam yang kuat seperti Duralium (campuran
Al, Cu, mg) untuk pembuatan badan peswat.
-
Al
sebagai zat reduktor untuk oksida MnO2 dan Cr2O3.
C.
Klasifikasi Aluminium
1.
Aluminium Murni
Aluminium
99% tanpa tambahan logam paduan apapun dan dicetak dalam keadaan biasa, hanya
memiliki kekuatan tensil sebesar 90 MPa, terlalu lunak untuk penggunaan yang
luas sehingga seringkali aluminium dipadukan dengan logam lain.
2.
Aluminium Paduan
Elemen
paduan yang umum digunakan pada aluminium adalah silikon, magnesium, tembaga,
seng, mangan, dan juga lithium sebelum tahun 1970.
Secara
umum, penambahan logam paduan hingga konsentrasi tertentu akan meningkatkan
kekuatan tensil dan kekerasan, serta menurunkan titik lebur. Jika melebihi
konsentrasi tersebut, umumnya titik lebur akan naik disertai meningkatnya
kerapuhan akibat terbentuknya senyawa, kristal, atau granula dalam logam.
Namun,
kekuatan bahan paduan aluminium tidak hanya bergantung pada konsentrasi logam
paduannya saja, tetapi juga bagaimana proses perlakuannya hingga aluminium siap
digunakan, apakah dengan penempaan, perlakuan panas, penyimpanan, dan
sebagainya.
3.
Paduan Aluminium-Silikon
Paduan
aluminium dengan silikon hingga 15% akan memberikan kekerasan dan kekuatan
tensil yang cukup besar, hingga mencapai 525 MPa pada aluminium paduan yang
dihasilkan pada perlakuan panas. Jika konsentrasi silikon lebih tinggi dari
15%, tingkat kerapuhan logam akan meningkat secara drastis akibat terbentuknya
kristal granula silika.
4.
Paduan Aluminium-Magnesium
Keberadaan
magnesium hingga 15,35% dapat menurunkan titik lebur logam paduan yang cukup
drastis, dari 660 oC hingga 450 oC. Namun, hal ini tidak
menjadikan aluminium paduan dapat ditempa menggunakan panas dengan mudah karena
korosi akan terjadi pada suhu di atas 60 oC. Keberadaan magnesium
juga menjadikan logam paduan dapat bekerja dengan baik pada temperatur yang
sangat rendah, di mana kebanyakan logam akan mengalami failure pada temperatur
tersebut.
5.
Paduan Aluminium-Tembaga
Paduan
aluminium-tembaga juga menghasilkan sifat yang keras dan kuat, namun rapuh.
Umumnya, untuk kepentingan penempaan, paduan tidak boleh memiliki konsentrasi
tembaga di atas 5,6% karena akan membentuk senyawa CuAl2 dalam logam
yang menjadikan logam rapuh.
6.
Paduan Aluminium-Mangan
Penambahan
mangan memiliki akan berefek pada sifat dapat dilakukan pengerasan tegangan
dengan mudah (work-hardening) sehingga didapatkan logam paduan dengan
kekuatan tensil yang tinggi namun tidak terlalu rapuh.
Selain
itu, penambahan mangan akan meningkatkan titik lebur paduan aluminium.
7.
Paduan Aluminium-Seng
Paduan
aluminium dengan seng merupakan paduan yang paling terkenal karena merupakan
bahan pembuat badan dan sayap pesawat terbang. Paduan ini memiliki kekuatan tertinggi
dibandingkan paduan lainnya, aluminium dengan 5,5% seng dapat memiliki kekuatan
tensil sebesar 580 MPa dengan elongasi sebesar 11% dalam setiap 50 mm bahan.
Bandingkan dengan aluminium dengan 1% magnesium yang memiliki kekuatan tensil
sebesar 410 MPa namun memiliki elongasi sebesar 6% setiap 50 mm bahan.
8.
Paduan Aluminium-Lithium
Lithium
menjadikan paduan aluminium mengalami pengurangan massa jenis dan peningkatan
modulus elastisitas; hingga konsentrasi sebesar 4% lithium, setiap penambahan
1% lithium akan mengurangi massa jenis paduan sebanyak 3% dan peningkatan
modulus elastisitas sebesar 5%. Namun aluminium-lithium tidak lagi diproduksi
akibat tingkat reaktivitas lithium yang tinggi yang dapat meningkatkan biaya
keselamatan kerja.
9.
Paduan Aluminium-Skandium
Penambahan
skandium ke aluminium membatasi pemuaian yang terjadi pada paduan, baik ketika
pengelasan maupun ketika paduan berada di lingkungan yang panas. Paduan ini
semakin jarang diproduksi, karena terdapat paduan lain yang lebih murah dan
lebih mudah diproduksi dengan karakteristik yang sama, yaitu paduan titanium.
Paduan Al-Sc pernah digunakan sebagai bahan pembuat pesawat tempur Rusia, MIG,
dengan konsentrasi Sc antara 0,1-0,5% (Zaki, 2003, dan Schwarz, 2004).
10.
Paduan Aluminium-Besi
Besi
(Fe) juga kerap kali muncul dalam aluminium paduan sebagai suatu “kecelakaan”.
Kehadiran besi umumnya terjadi ketika pengecoran dengan menggunakan cetakan
besi yang tidak dilapisi batuan kapur atau keramik. Efek kehadiran Fe dalam
paduan adalah berkurangnya kekuatan tensil secara signifikan, namun diikuti
dengan penambahan kekerasan dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam paduan 10%
silikon, keberadaan Fe sebesar 2,08% mengurangi kekuatan tensil dari 217 hingga
78 MPa, dan menambah skala Brinnel dari 62 hingga 70. Hal ini terjadi akibat
terbentuknya kristal Fe-Al-X, dengan X adalah paduan utama aluminium selain Fe.
Kelemahan
aluminium paduan adalah pada ketahanannya terhadap lelah (fatigue).
Aluminium paduan tidak memiliki batas lelah yang dapat diperkirakan seperti
baja, yang berarti failure akibat fatigue dapat muncul dengan
tiba-tiba bahkan pada beban siklik yang kecil.
Satu
kelemahan yang dimiliki aluminium murni dan paduan adalah sulit memperkirakan
secara visual kapan aluminium akan mulai melebur, karena aluminium tidak
menunjukkan tanda visual seperti baja yang bercahaya kemerahan sebelum melebur.
11.
Aluminium paduan cor
Aluminium
dapat dicor di cetakan pasir/tanah liat, cetakan besi, atau cetakan baja dengan
diberi tekanan. Logam cor dapat lebih cepat mengeras jika dicor dengan cetakan
logam, sehingga akan menghasilkan efek yang sama seperti efek quenching,
yaitu memperkeras logam.
Pengecoran
dengan besi harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan intrusi
besi ke dalam paduan, menyebabkan paduan memiliki komposisi yang tidak
diinginkan. Proses pengecoran, selain harus terbebas dari pengotor pencetaknya,
juga harus terbebas dari uap air. Aluminium, dalam temperatur tinggi, dapat
bereaksi dengan uap air membentuk aluminium hidroksida dan gas hidrogen.
Aluminium cair, sepeti logam cair pada umumnya, dapat melarutkan gas tersebut,
dan ketika logam mulai mendingin dan menjadi padat, gelembung-gelembung
hidrogen akan terbentuk di dalam logam, menyebabkan logam menjadi berpori-pori
dan menyebabkan logam semakin rapuh.
Untuk
mencegah keberadaan gas hidrogen dalam logam, pengecoran sebaiknya dilakukan
dalam keadaan kering dan tidak lembab serta logam tidak dilelehkan pada
temperatur jauh di atas titik lelehnya. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan tanur listrik, namun hal ini akan meningkatkan biaya produksi.
Komposisi
utama aluminium paduan cor pada umumnya adalah tembaga, silikon, dan magnesium.
Al-Cu memberikan keuntungan yaitu kemudahan dalam pengecoran dan memudahkan
pengerjaan permesinan. Al-Si memmberikan kemudahan dalam pengecoran, kekuatan,
ketahanan pada temperatur tinggi, dan pemuaian yang rendah. Sifat pemuaian
merupakan sifat yang penting dalam logam cor dan ekstrusi, yang pada umumnya
merupakan bagian dari mesin. Al-Mg juga memberikan kekuatan, dan lebih baik
dibandingkan Al-Si karena memiliki ketahanan yang lebih tinggi hingga logam
mengalami deformasi plastis (elongasi). Namun konsentrasi lebih dari 10% dapat
mengurangi kemudahan dalam pengecoran.
D.
Pengolahan
Alumininum
Aluminium dibuat menurut proses Hall-heroult yang ditemukan oleh Charles M. Hall di Amerika Serikat dan Paul Heroult tahun 1886. Pengolahan aluminium dan
bauksit meliputi 2 tahap :
1.
Pemurnian
bauksit untuk meperoleh alumina murni.
2.
Peleburan
/ reduksi alumina dangan elektrolisis
Pemurnian
bauksit melalui cara :
a.
Ba
direaksikan dengana NaOH(q) . Aluminium oksida akan larut membentuk NaCl(OH)4.
b.
Larutan
disaring lalu filtrat yang mengandung NaAl(OH)4 diasamkan dengan mengalirkan
gas CO2 Al mengendap sebagai Al(OH)3
c.
Al(OH)3
disaring lalu dikeringkan dan dipanaskan sehingga diperoleh Al2O3 tak berair.
Bijih –bijih Aluminium yang utama antara lain:
-
Bauksit
-
Mika
-
Tanah
Liat
Peleburan Alumina
Peleburan ini menggunakan sel
elektrolisis yang terdiri atas wadah dari besi berlapis grafit yang
sekaligus berfungsi sebagai katode (-) sedang anode (+) adalah grafit. Campuran
Al2O3 dengan kriolit dan AlF3 dipanaskan hingga mencair dan pada suhu 950
C kemudian dielektrolisis . Al yang terbentuk berupa zat cair dan terkumpul di
dasar wadah lalu dikeluarkan secara periodik ke dalam cetakan untuk
mendapat aluminium batangan (ingot). Anode grafit terus menerus
dihabiskan karena bereaksi dengan O2 sehingga harus diganti dari waktu
ke waktu. Untuk mendapat 1 Kg Al dihabiskan 0,44 anode grafit. 2Al2O3
+3C 4Al + 3CO2
Beberapa
nijih Al yang utama :
1.
Bauksit
(Al2O3. 2H2O)
2.
Mika
(K-Mg-Al-Slilkat)
3.
Tanah
liat (Al2Si2O7.2H2O)
Aluminium
ada di alam dalam bentuk silikat maupun oksida, yaitu antara lain :
-
Sebagai
silikat misal feldspar, tanah liat, mika
-
Sebagai
oksida anhidrat misal kurondum (untuk amril)
-
Sebagai
hidrat misal bauksit
-
Sebagai
florida misal kriolit.
E.
Penggunaan
Aluminium
Beberapa penggunaan aluminium antara
lain:
1.
Sektor
industri otomotif, untuk membuat bak truk dan komponen kendaraan bermotor.
2.
untuk
membuat badan pesawat terbang.
3.
Sektor
pembangunan perumahan;untuk kusen pintu dan jendela.
4.
Sektor
industri makanan ,untuk kemasan berbagai jenis produk.
5.
Sektor
lain, misal untuk kabel listrik, perabotan rumah tangga dan barang kerajinan.
6.
Membuat
termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk besi (III) oksida,
digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya untuk menyambung rel kereta
api. Beberapa senyawa Aluminium juga banyak penggunaannya, antara lain:
1)
Tawas
(K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O)
Tawas
mempunyai rumus kimia KSO4.AL2.(SO4)3.24H2O. Tawas digunakan untuk menjernihkan
air pada pengolahan air minum.
2)
Alumina
(Al2O3)
Alumin
dibedakan atas alfa0allumina dan gamma-allumina. Gamma-alumina diperoleh dari
pemanasan Al(OH)3 di bawah 4500C. Gamma-alumina digunakan untuk pembuatan
aluminium, untuk pasta gigi, dan industri keramik serta industri gelas.
Alfa-allumina diperoleh dari pemanasan Al(OH)3 pada suhu diatas 10000C.
Alfa-allumina terdapat sebagai korundum di alam yang digunakan untuk amplas
atau grinda. Batu mulia, seperti rubi, safir, ametis, dan topaz merupakan
alfa-allumina yang mengandung senyawa unsur logam transisi yang memberi warna
pada batu tersebut. Warna-warna rubi antara lain:
-
Rubi
berwarna merah karena mengandung senyawa kromium (III)
-
Safir
berwarna biru karena mengandung senyawa besi(II), besi(III) dan titan(IV)
-
Ametis
berwarna violet karena mengandung senyawa kromium (III) dan titan (IV)
-
Topaz
berwarna kuning karena mengandung besi (III)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada abad ke-19, sebelum
ditemukannya proses elektrolisis, aluminium hanya bisa didapatkan
dari bauksit dengan proses kimia Wöhler Aluminium adalah logam yang berwaarna
putih perak dan tergolong ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm3.
Aluminium merupakan elemen yang
berjumlah sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga.
Aluminium terdapat dalam penggunaan aditif makanan, antasida, buffered
aspirin, astringents, semprotan hidung, antiperspirant, air minum, knalpot mobil, asap
tembakau,
penggunaan aluminium
foil, peralatan masak, kaleng, keramik , dan kembang api.
B.
Saran
Dalam pembuatan makalah tentang ilmu
logam ini, penulis menginginkan kritik dan saran dari sdra(i) pembaca, apabila
dalam penulisan makalah ini, terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat mengurangi
nilai dari pembuatan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar